Meraih Cita-Cita Seribu Rintangan

Aku adalah anak perempuan dari 2 bersaudara yang terikat rantai kehidupan dibesarkan oleh nenek dan kakek yang kurang mampu.namaku Andia Regita Cahyani yang tinggal di sebuah desa Berastagi Sumatra Utara Kabupaten Karo,mahasiswa Politeknik Jakarta yang banyak meraih prestasi medali Taekwondo.

Ketika aku masih di kandungan, ibuku telah mengidap penyakit kanker. Namun ibu adalah wanita yang kuat, hingga bisa melahirkanku kedunia yang fana ini.

Ibuku  mengidap kanker payudara 10 tahun lamanya hingga tepat pada waktu  aku  kenaikan kelas 3 SD dan adikku berumur 5  tahun  ibuku meninggal dunia.

Semenjak ibu meninggal aku dan adikku tinggal Bersama nenek, kakek dan paman, mereka mengurus kami dengan baik, dan bapak mengontrak rumah didekat pasar sayur mayur,agar dekat dengan tempat kerjanya. bapak bekerja sebagai tukang sorong sayur mayur.

Sejak di bangku sekolah dasar, aku berusaha mandiri  dan menjadi pengganti ibu untuk adikku, aku mencuci pakaian, mencuci piring, dan memasak. Satu kali Aku melihat bapak, nenek dan kakekku capek bekerja sehingga aku memutuskan untuk berjualan jeruk keliling untuk menambahi uang sekolahku.

Satu kali aku termenung di sebuah lorong sekolahku, ada banyak orang disana tapi seakan akan aku merasa hanya aku saja yang ada ditempat itu. Setelah begitu lama duduk dilorong ini  air mata ini jatuh, banyak kenangan yang tak akan terlupakan, masa-masa yang indah. Ya benar, aku rindu sosok ibuku  hatiku terpukul Ketika aku mengingat adikku menangis dibawah foto ibuku.

Ketika aku SMA aku berusaha membayar uang sekolahku dengan menjual gorengan sepulang sekolah. Mengingat aku akan lulus SMA, aku bekerja denngan semangat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi”

Sungguh ini tidak mudah, karena kondisi perekonomian keluargaku kurang mendukung. bapak terkena penyakit gula sehingga dia tidak bisa bekerja lagi, kakekku sudah meninggal karena penyakit sesak yang dideritanya.aku dan adikku akhirnya berpisah tempat tinngal karena dia harus bekerja menjadi tulang punggung untuk bapakku samnbil sekolah, sedangkan aku tinggal bersama nenekku yang sudah tua dirumah bibiku  sambil bekerja di warung.

 

Sejak SMP aku selalu mendapat juara di tournament Taekwondo, aku pernah mendapat juara nasional, provinsi, GUBSU dan lainnya. Sejak dibangku SD aku selalu mendapatkan beasiswa sampai aku SMA pun masih mendapatkan beasiswa.

Pada umumnya banyak siswa SMA ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tapi aku ,asih tidak tahu apakah harus melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi atau tidak. Aku memiliki cita-cita sebagai seorang reporter.

Sebelum lulus dari bangku SMA aku mencoba jalur PMDK di Politeknik negeri Jakarta  akhirnya aku menunggu hasilnya dan ternyata aku lulus jalur PMDK. Namun keluargaku tidak ada yang setuju alasannya karena percuma kuliah ujung-ujungnya jadi orang bawah juga kok. Ucap keluargaku

Ditengah malam, diatas kasur aku berdoa pada Tuhan. “Tuhan aku tahu masa depan ku ada ditanganMu, dan aku mau percaya ketika aku berusaha dan berharap Tuhan gak akan mengecewakanku, tapi aku minta tolong sediakan satu kursi kosong untuk aku duduki dikuliah nanti Tuhan. Tapi jadilah kehendakmu bukan kehendakku amin”

Kamu pernah merasakan kuasa doa? Ya aku alami kuasa doa itu, hati nenek dan bapakku tergerak dan mengizinkanku kuliah.


Andia Regita Cahyani Br Pelawi (Politeknik Negeri Jakarta)

 

Komentar